Dewasa ini gas merupakan bahan bakar yang di galakkan penggunaanya oleh pemerintah Indonesia, hal ini di sebabkan gas lebih bersih, tidak banyak polusi dibandingkan dengan penggunaan diesel dan batu bara bila digunakan untuk pembangkit listrik, beberapa mesin tipe gas engine bahkan mempunyai sistem dual fuel yang mampu di jalankan dengan bahan bakar gas, diesel fuel ataupun campurannya. Permasalahannya adalah dalam sistem gas tersendiri banyak sekali terdapat impurities baik karena faktor external ataupun internal, sedangkan gas dapat dijadikan sebagai bahan bakar bila memenuhi syarat tertentu yang sudah di tentukan oleh pabrikan mesin gas ataupun turbin gas, untuk itu diperlukan sistem pengkondisian bahan bakar gas agar gas dapat digunakan.

Secara umum sistem pengkondisian gas terdiri dari beberapa sistem, tergantung dari impurities, suhu, dan tekanan, pada itinya persyaratan mesin seperti methane number, suhu minimum maximum dan pressure minumum dan maximum adalah yang perlu dijaga dalam pengkondisian gas, dengan cara menambahkan beberapa peralatan untuk memenuhi persyaratan tersebut, beberapa jeis peralatan tersebut diantaranya :

  • Scrubber dan filter separator, alat ini banyak digunakan untuk menghilangkan impurities dalam bentuk padat, sekaligus melakukan penyaringan untuk fraksi berat dari natural gas, dengan adanya alat ini partikel padat dapat di sharing, misalnya debu, debris, bekas pengelasan pada pipa, fungsi lain dari scrubber adalah untuk memisahkan partikel fraksi berat dari natural gas yang kadang terkondensasi selama proses transportasi melalui sistem pipeline, scrubber yang dilengkapi dengan mist eleminator sangat sesuai dengan kondisi tersebut, pada umumnya scrubber mempunyai saringan lebih kasar, misalnya 100 micron hingga 200 micron, sedangkan filter separator mempunyai saringan lebih kecil mulai dari 3 micron sampai 30 micron tergantung permintaan downstream dari fuel gas, untuk proses burning pada tungku cukup menggunakan saringan 30-100 micron, sedangkan untuk mesin gas diminta 3-5 micron, hal ini untuk menghindari banyaknya kotoran yang bisa masuk ke dalam ruang pembakaran. Scrubber diletakkan setelah inlet dari raw gas yang masuk, sedangkan letak dari filter separator dapat diletakkan di downstream dari scrubber langsung atau sebelum masuk ke dalam perlalatan, tergantung dari hasil dan raw gas yang masuk.

  • Heater, tidak semua fuel gas system diperlukan heater, terdapat dua syarat utama agar apabila heater akan digunakan, pertama suhu dari raw gas yang terlalu rendah, misalnya kurang dari 10 C, walaupun beberapa mesin sanggup bekerja pada suhu tersebut, namun effisiensi dari mesin akan menurun,  manufactur mesin mensarankan suhu antara 20-35 C, kedua apabia di perlukan untuk pemisahan C1 dan C2+, suhu tinggi dapat dimanfaatkan untuk meninggkatkan effisiensi pemisahan.
  • ESDV, emergency shutdown valve, peralatan ini wajib dipasang sebagai safety devices dowstream equipment nya, pada beberapa sistem ESDV juga sudah terintegrasi dengan peralatan sebelumnya, misalnya pada metering system atau keseluruhan sistem perpipaan pada fuel gas. selain dari sistem ESDV untuk fuel gas dengan flowrate kecil, misalnya kurang dari 1 MMSCFD digunakan mechanical actuated valve seperti slum shut valve sebagai pengganti ESDV, fungsinya kurang lebih sama, yaitu akan menutup aliran gas saat terjadi over pressure maupun less pressure, bisa terjadi akibat kebocoran, penumpukan gas dan masalah lainya.
  • Gas Regulator, fungsi utamanya adalah untuk meregulate pressure, apabila tekanan pada upstream terlalu tinggi, maka akan di turunkan sesuai dengan kebutuhan dari mesin gas, untuk mesin gas, tekanan yang dinginkan adalah 50 psig sampai dengan 80 Psig, sedangan supply gas pada inlet bervariasi, pada sistem pipa distribusi sekitar 120-240 Psig. untuk turbin gas dibutuhkan supply tekanan lebih tinggi. untuk flowrate kecil umumnya tipe yang digunakan adalah self regulating, karena lebih mudah maintenance dan harganya yang relatif murah dibandingkan dengan control valve.
  • Booster Compressor, hanya diperlukan saat tekanan dari pipa supply (upstream) lebih rendah dari tekanan untuk keperluan menghidupkan peralatan (downstream), pada beberapa case memang dibutuhkan compressor, namun dari pengalaman kami untuk di Indonesia sangat jarang dibutuhkan tambahan booster compressor pada fuel gas system.
  • Metering, fungsi utamanya adalah untuk mengukur jumlah fuel yang masuk ke dalam peralatan, jenis metering dapat menyesuaikan dengan flowrate, pressure yang terjadi, terdapat tiga jenis metering yang sering digunakan yaitu tipe turbine, oriface dan ultrasonic meskipun tipe metering lain juga dapat digunakan asalkan sesuai dengan peruntukan fluida gas.

Tertarik untuk berdiskusi lanjut mengenai Fuel Conditioning System, silahkan kontak kami di kontak@pustek.com