Tahapan Desain Onshore Pipeline Alignment Sheet

Pipeline secara harfiah dijelaskan sebagai a very long large tube, usually underground, used to transport oil, gas, etc. over a long distance (dictionary cambridge), bisa kita artikan sebagai sebuah saluran berbentuk tabung yang sangat panjang untuk memindahkan fluida dalam jumlah besar umumnya diletakkan secara underground.  karena secara umum pipeline memindahkan fluida dari tempat satu ke tempat lainya yang cukup jauh,  melewati beberapa wilayah, beberapa daerah, bahkan terdapat lintasan pipeline antar benua, diperlukan persiapan yang bagus untuk menentukan jalur yang paling effisien.

Persiapan

Peta jalur pipeline disebut juga dengan alignment sheet, merupakan sebuah gambar kerja yang menunjukkan keterangan teknis, lahan, topography dan kondisi wilayah secara fisik dan spesifikasi  dari pipeline yang akan dibangun. Terdapat dua jenis persiapan utama untuk penentuan jalur pipeline, sebelum proses desain pipeline aligment sheet dimulai,

Pertama, Persiapan Administrasi

Goverment Juridication dan Land Juridication, jalur pipeline ditentukan berdasarkan studi kelayakan (feasibility study), fase ini mempertimbangkan pemilik lahan dari jalur yang akan digunakan, termasuk diantaranya biaya sewa, biaya akusisi lahan, perizinan pemerintah setempat, maupun biaya tak terduga seperti social cost, proses ini diperuntukkan untuk mendapatkan ROW (right of way) pipeline.

Kedua, Pertimbangan Kondisi Lingkungan dan Teknis.

kondisi permukaan sangat menentukan biaya EPC, terutama dari kebutuhan material dan konstruksi, pertimbangan teknis pada saat survey awal diantaranya :

1. Kondisi tutupan lahan, misalnya : Rawa, Jalur sungai, jalur irigasi, pengunungan, perbukitan, tumbuhan perdu, hutan lindung, pertanian penduduk, Perkebunan, setiap jenis lahan mempunyai batasan tertentu untuk dapat digunakan sebagai ROW Pipeline.

2. Bangunan, adanya bangunan berpengaruh kepada penentuan class pipeline sesuai ASME B31.8, semakin sedikit bangunan, semakin bagus dna memudahkan dalam fase konstruksi, dengan adanya bangunan, tentunya dibutuhkan metode konstruksi khusus sehingga biaya konstruksi naik. jenis bangunan dan rencana tata wilayah kota untuk 20 tahun kedepatn, tetap harus menjadikan pertimbangan dalam penentuan jalur.

3. Kebutuhan Soil improvment, kondisi lahan terutama rawa, area rawan longsor,  perbukitan, area yang terlalu dekat dengan sungai, membutuhkan perbaikan tersendiri, daerah ini wajib menjadi bahan pertimbangan karena biaya konstruksi terpengaruh cukup besar.

4. Fasilitas Exisiting, seperti jalur pipeline lama, jalur kereta api, jalan tol, jalan inspeksi wajib menjadi pertimbangan untuk kemudahan konstruksi.

Pada survey pendahuluan, cara yang umum dipakai adalah dengan menggunakan Aerial Photography, cara ini dapat menggunakan Drone ataupun LIDAR, pada daerah tertentu dengan kualitas google maps yang sudah bagus, juga dapat digunakan untuk indentifikasi awal, terutama pada kota besar, kebijakan satu peta, (Indonesia Geospasial) juga sangat membantu dalam penentuan jalur awal, peta tersebut dapat didownload secara free, online dan dibuka dengan aplikasi GIS.

Survey Teknis.

Proses survey teknis sangat bergantung pada area / ROW yang sudah dipilih sebelumnya pada fase studi kelayakan. survey teknis tersebut diantaranya :

  • Hydrology Survey, Di Indonesia, sungai dan anak sungai sangat banyak jumlahnya, sehingga dapat dipastikan jalur pipeline selalu terdapat crossing sungai, atau setidaknya anak sungai, atau jalur irigasi lahan pertanian. survey ini meyangkut batimetry, kecepatan arus, curah hujan, dan terrain lingkungan sekitar sungai, hasil pengolahan data umumnya berupa study banjir, dan study geoteknis lainya dibutuhkan untuk mendapatkan rekomendasi teknis dari BWWS (Balai Besar Wilayah Sungai) setempat.
  • Geophysical Survey, terkait kestabilan tanah dan aktivitas gempa, dapat juga menggunakan data dari intansi pemerintah setempat bila ada, terutama pada daerah lereng, berbukit, study kestabilan tanah diperlukan untuk rekomendasi selanjutnya terhadap proteksi pipeline.
  • Soil Investigation, kebutuhan data tanah untuk penggunaan pondasi, anchor dan stress analysis pipeline mutlak diperlukan, sedangkan jumlah titiknya, mengacu kepada panjang jalur dan perbedaan tanah secara umum, tipe soil investigasi dapat berupa SPT, NPT, Hand boring coring.
  • Surface Radar, derah seperti perkotaan, ataupun wilayah dengan banyak fasilitas pipeline exisiting, perlu memakai GPR (ground penetration radar), untuk mendapatkan gambaran secara jelas apa saja yang terdapat dibawah permukaan tanah, GPR dapat menjangkau sampai dengan 6 m dari permukaan. Pipe Cable locator juga dapat digunakan untuk penentuan lokasi fasilitas pipa exisiting, metode ini lebih murah dan cepat, namun akurasinya masih bagus GPR.
  • Meteorological Survey, Desktop Study wajib dilakukan untuk bangunan pipeline offshore, sedangkan untuk pipeline di onshore bersifat melengkapi kebutuhan data dari engineering terhadap kondisi cuaca saat terjadi kejadian ekstreem. untuk onshore setidaknya data angin dan arah angin dengan ketinggian 3,25 m, 80 m apabila terdapat rencana pembangunan flare, suhu udara, suhu tanah, kelembapan, curah hujan wilayah, data kondisi ekstrim misalkan badai, taifun yang pernah terjadi atau melintas pada wilayah tersebut.
  • Soil Resistivity Survey, desain sistem katodik, perlindungan pipa memerlukan data soil resistivity, data yang diambil setidaknya jarak setiap 250 m.
  • Topography Survey, Alignment sheet sangat bergantung pada data topography, dimana tidak hanya mengambil data elevasi tanah, namun juga posisi dari utilitas, bangunan exisiting, perpohonan, lahan, sungai, parit, persimpangan jalan, rel kereta api, daerah rawa, batas lahan, dan lainya, data topo sangat penting untuk menentukan sistem kontruksi pipeline, sistem proteksi terhadap longsor, jenis dan jumlah pipe bending, dan banyaknya volume kegiatan penggalian dan pengurukan.

Informasi Peta Alignment Sheet

Peta alignment sheet, dibuat untuk keperluan konstruksi, sehingga gambar tersebut harus mencerminkan metode kerja, jalur pipa, kondisi lingkungan dengan jelas. pada gambar tersebut terdapat aturan tidak baku, namun bisa dibilang wajib untuk digambar dengan jelas, diantaranya :

  • Right-of-way, lebar ROW / batas lahan, center pipeline
  • Elevasi tanah, dan kedalaman pipa tertanam minimal.
  • Speck Umum pipa, seperti ukuran, ketebalan, grade, jenis pipa.
  • Pipe coating
  • Lokasi dan jenis perlindungan cathodic yang digunakan
  • Posisi tanam anodes, dan test station untuk pengecekan cathodic pipeline.
  • Crossing jalan, jalan tol, jembatan dengan disebutkan referensi dari detail drawing crossing yang digunakan.
  • Crossing sungai, menginformasikan kedalaman sungai, lebar, arah aliran
  • Jalur crossing dengan exisiting pipeline.
  • Utilitas Underground lain seperti kabel telpon, fiber optic, dan kabel listrik.
  • Utilitas diatas tanah seperti tiang listrik, kabel listrik, kabel FO
  • Batas wilayah, seperti kecamatan, nama jalan, nama desa, dan keterangan tempat penting lainya.
  • Class wilayah pipeline seperti pada ASME B31.8
  • Koordinat lahan
  • Keterangan khusus, seperti posisi LBCV, Pig Louncher, anchor.
  • Posisi BM dan koordinatnya, ini penting untuk penentuan proses centerline pipe.
  • Arah angin.
  • Keterangan Pipe Bending, sudut bending, dengan mengacu ke spesifikasi.

Setiap perusahaan pasti mengembangkan minimum requirement untuk drawing aligment sheet, pendetailan gambar tersebut, membutuhkan dukungan data yang bagus, presisi dan spesifikasi teknis terkait gambar aligment sheet.